music box

Sabtu, 18 Oktober 2014





mogellons 





Pittsburgh, Penyakit Morgellons telah menarik perhatian sejak tahun 2002 karena mulai banyak orang yang mengeluhkan gatal-gatal tanpa diketahui pasti penyebabnya. Hingga kini penyakit tersebut belum bisa dipahami, dan masih menjadi penyakit kulit yang misterius.


Pada tahun 2000, seorang anak mengalami penyakit dengan gejala adanya luka di bagian kulit disertai rasa gatal. Luka tersebut saat diamati juga terdapat serar aneh di bawah permukaan kulit. Penyakit aneh ini kemudian menjadi semakin menarik pada tahun 2002 karena mulai banyak orang mengeluh gatal-gatal.Dan pada tahun 2002 seorang ibu dari Pittsburgh bernama Maria Leitao meluncurkan sebuah website yang menunjukkan luka di kulit dan struktur seperti filament atau serat di kulit anak laki-lakinya yang berusia 2 tahun. Sejak itu hampir 14.000 keluarga melaporkan kasus yang sama, kondisi ini disebut dengan penyakit Morgellons.

"Penyakit ini adalah suatu kondisi kulit yang tidak memiliki definisi medis tertentu yang bisa diterima. Nama tersebut juga tidak diberikan oleh dokter, melainkan oleh kelompok advokasi tertentu," ujar Prof Michael Cappello, seorang pediatric dan spesialis penyakit menular di Yale University School of Medicine di New Haven, Connecticut, seperti dikutip dariScientificamerican, Kamis (17/6/2010).






Prof Cappello menuturkan penyakit ini dinamakan Morgellons. Tanda-tandanya adalah kulit mengalami luka ruam disertai gatal-gatal, saat  diraba terasa ada parasit yang sedang menggerogoti jaringan kulit penderita dan jika diteliti dengan mikroskop terdapat serat-serat aneh disekitar jaringan yang baru terbentuk. Gejala lain saat jaringan kulit sudah terserang parah, si penderita akan mengeluh cepat lelah, kemampuan kognitif berkurang  dan merasakan nyeri otot dan sendi.

Rasa gatal yang akut sering membuat penderita merasa gila karena selalu berusaha ingin mengeluarkan benda dengan cara menggaruk. Si penderita sering berpikiran ada benda asing di dalam jaringan kulit mereka sehingga mereka selalu menggaruk kulit agar bisa mengeluarkan benda tersebut. Benda tersebut terasa padat mirip butiran pasir, telur, cacing ataupun larva. Jika sudah serius, akan muncul jaringan kulit baru yang teksturnya berbeda dengan jaringan kulit manusia normalnya.

Hal inilah yang membuat seseorang menggaruk terus karena berusaha ingin mengeluarkannya. Pasien akan mengatakan bahwa dirinya harus menggaruk terus menerus untuk mengeluarkan parasit tersebut dari dalam kulitnya.

Pasien seringkali menggambarkan sesuatu yang hidup di bawah kulitnya sebagai serat kecil. Jika dilihat dengan mikroskop diyakini berwarna putih, biru, merah atau hitam. Selain itu ada juga yang menyakininya sebagai butiran seperti pasir yang berwarna hitam atau putih di dalam kulitnya.

"Berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya tidak pernah menemukan bukti adanya parasit yang bisa menginfeksi bagian bawah kulit. Sampel yang terlihat dimikroskop sama seperti kulit orang normal lainnya," ungkapnya.


Penyakit kulit gila


Karena tidak ditemukannya bukti ada agen infeksi, maka gejala yang konsisten timbul kemungkinan akibat kondisi kejiwaannya. Untuk itu pasien ini belum bisa diperlakukan sebagai penyakit parasit. Tapi ada kemungkinan untuk mempertimbangkan diagnosis parasitosis delusi (suatu kondisi yang mana pasien secara keliru telah percaya bahwa dirinya sudah terinfeksi parasit).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar