mogellons
Pittsburgh, Penyakit Morgellons telah menarik perhatian sejak tahun 2002 karena mulai banyak orang yang mengeluhkan gatal-gatal tanpa diketahui pasti penyebabnya. Hingga kini penyakit tersebut belum bisa dipahami, dan masih menjadi penyakit kulit yang misterius.
Pada tahun 2000, seorang anak mengalami
penyakit dengan gejala adanya luka di bagian kulit disertai rasa gatal. Luka
tersebut saat diamati juga terdapat serar aneh di bawah permukaan kulit.
Penyakit aneh ini kemudian menjadi semakin menarik pada tahun 2002 karena mulai
banyak orang mengeluh gatal-gatal.Dan pada tahun 2002 seorang ibu dari Pittsburgh bernama Maria
Leitao meluncurkan sebuah website yang menunjukkan luka di kulit dan struktur
seperti filament atau serat di kulit anak laki-lakinya yang berusia 2 tahun.
Sejak itu hampir 14.000 keluarga melaporkan kasus yang sama, kondisi ini
disebut dengan penyakit Morgellons.
Prof Cappello menuturkan penyakit ini dinamakan Morgellons. Tanda-tandanya adalah kulit mengalami luka ruam disertai gatal-gatal, saat diraba terasa ada parasit yang sedang menggerogoti jaringan kulit penderita dan jika diteliti dengan mikroskop terdapat serat-serat aneh disekitar jaringan yang baru terbentuk. Gejala lain saat jaringan kulit sudah terserang parah, si penderita akan mengeluh cepat lelah, kemampuan kognitif berkurang dan merasakan nyeri otot dan sendi.
Rasa gatal yang akut sering
membuat penderita merasa gila karena selalu berusaha ingin mengeluarkan benda
dengan cara menggaruk. Si penderita sering berpikiran ada benda asing di dalam
jaringan kulit mereka sehingga mereka selalu menggaruk kulit agar bisa
mengeluarkan benda tersebut. Benda tersebut terasa padat mirip butiran pasir,
telur, cacing ataupun larva. Jika sudah serius, akan muncul jaringan kulit baru
yang teksturnya berbeda dengan jaringan kulit manusia normalnya.
Pasien seringkali menggambarkan sesuatu yang hidup di bawah kulitnya sebagai serat kecil. Jika dilihat dengan mikroskop diyakini berwarna putih, biru, merah atau hitam. Selain itu ada juga yang menyakininya sebagai butiran seperti pasir yang berwarna hitam atau putih di dalam kulitnya.
"Berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya tidak pernah menemukan bukti adanya parasit yang bisa menginfeksi bagian bawah kulit. Sampel yang terlihat dimikroskop sama seperti kulit orang normal lainnya," ungkapnya.
Karena tidak ditemukannya bukti ada agen infeksi, maka gejala yang konsisten timbul kemungkinan akibat kondisi kejiwaannya. Untuk itu pasien ini belum bisa diperlakukan sebagai penyakit parasit. Tapi ada kemungkinan untuk mempertimbangkan diagnosis parasitosis delusi (suatu kondisi yang mana pasien secara keliru telah percaya bahwa dirinya sudah terinfeksi parasit).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar